Sejarah RSUD dr Soekarjo Pertama Kali Didirikan dan Sejarah Direktur RSUD Sampai Sekarang..

Spread the love

Kota Tasik, jerat86.com – GEDUNG tua yang berdiri kokoh di kelurahan Tawang itu ternyata menyimpan kisah di balik nama jalan dr. Soekardjo. Tempat itu menjadi saksi bisu kehadiran tokoh kunci perkembangan dunia kesehatan Tasikmalaya.

Sebelum menjadi Markas Tempat Pemberian Pembekalan (Tepbek) III-44-02-01B Tasikmalaya, gedung itu ditempati dr. Mas Soekardjo, sebagai rumah dinas sekaligus tempat praktik. Lebih dari setengah abad, bangunan tinggi itu bergeming. Masih terawat dan bertahan. Suasana silam masih terekam kuat. Ada lapang kecil, tempat olah raga.

Tampak pula bangunan serupa, namun ruang-ruangnya lebih berimpitan. Rapat. Menurut penuturan saksi sejarah, Rd. Djadja Winatakusumah, di tempat itu pernah dibangun rumah sakit, ketika kawasan itu masih disebut Jalan Pasar Kolot. Namun berbarengan dengan penamaan jalan utama di jantung kota menjadi Jalan KH. Zainal Mustofa, Jalan Pasar Kolot pun berganti nama menjadi Jalan dr. Soekardjo.

Latar sejarah itu menarik perhatian Balai Arkeolog Bandung untuk mencatat gedung itu dalam direktori cagar budaya. Beberapa tempo lalu para peneliti diterjunkan untuk meninjau bangunan bersejarah itu. Kontruksi dan teksturnya tidak berubah. Catatan lain membuka tabir sosok Mas Soekardjo. Meskipun dibesarkan di lingkungan Keraton Surakarta, Mas Soekarjo mengabdi untuk Sukapura.

Putra Raden Ngabehi Prawisentana itu menjabat direktur pertama Provinciale Ziekenhius — sekarang RSUD Tasikmalaya) — selama 13 tahun (1925-1938). Bukan itu saja, keturunan Mataram itu pun pernah mendirikan rumah sakit partikelir atau swasta di bilangan Javaveem (sekarang Jalan RE Martadinata).

Selain itu mendirikan rumah sakit swasta yang terkenal pada zamannya di Gudang Uyah. Bahkan, pernah membuka poliklinik darurat di Tawangbanteng dan Sinagar Tasikmalaya demi menolong semua bombardemen Belanda saat warga mengungsi ke Gunung Galungung. Karena jasanya itu, Mas Soekardjo mendapat penghargaan Bintang Gerilya dari Pemerintah Republik Indonesia. Sebelumnya pernah pula mendapat piagam dan Bintang Broder In De Orde Van De Nederlandsche Leeuw dari Hindia Belanda.

Penghargaan yang sangat bermakna ketika namanya diabadikan menjadi nama jalan yang membentang dari simpang Masjid Agung sampai pertigaan Cimulu — Jalan dr. Soekardjo — yang kini populer disebut Jalan Dokar.

dr. Mas Soekardjo

Nama dr. Mas Soekardjo semakin kukuh, setelah Pemerintah Kota Tasikmalaya pun mengabadikan dirinya menjadi nama RSUD Kota Tasikmalaya, pada tanggal 26 Januari 2016. Sejak saat itu RSUD Dokter Soekardjo resmi dipancangkan. Sangat beralasan. Lantaran sosok Mas Soekardjo yang lahir pada tahun 1864 itu dikenal sebagai perintis berdirinya rumah sakit di Tasikmalaya.

Daftar urutan Direktur Rumah sakit yang pernah menjabat sampai dengan saat ini adalah sebagai berikut :

1. dr. H. Mas Soekardjo (1925 – 1938)
2. dr. Van Goor (1927 – 1928)
3. dr. RAA Brenkman (1935 – 1948)
4. dr. R. Soediono (1939-1948)
5. dr. Mas Sapuan Sastrosatomo (1948 – 1949)
6. Prof. Dr. Sastrawinangun (1949)
7. dr. Yeowono Atmosoediro (1949 – 1959)
8. dr. Tata Adisurya (1956 – 1968)
9. dr. H. Djoni Ahmad Muljana (1968 – 1986)
10. dr. H. Mohamad Sodik, SKM ( 1987 – 1997)
11. dr. H. Djuhari Suryasaputra, M. Kes (1997 – 2001)
12. dr. H. U. Karna Muljadi, S. PA (2001 – 2006)
13. dr. H. Wahyu Sumawijaya, M.Kes (2004 – 2006)
14. dr. H. Wasisto Hidayat, M.Kes ( 2006 – s/d sekarang ).

Mengenal lebih dekat, sosok yang satu ini memang sudah tak asing di benak warga Tasikmalaya pada umumnya. Pengabdian serta pengorbanannya selama mengemban tugas ternyata telah banyak mewarnai dan memberi kontribusi yang cukup berarti bagi keberlangsungan pembangunan daerah terutama di bidang pelayanan kesehatan.

Sebut saja, dr. H. Wasisto Hidayat, M. Kes. Sekarang, Ia menjabat sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Dari sejak lahir hingga mulai meniti karir dan sampai saat ini, kepribadiannya tak lepas dari prinsip-prinsip hidup yang selalu ingin banyak membantu dan bermanfaat bagi sesama. Ramah, bersahaja dan murah senyum mungkin kalimat yang sangat cocok bila disebutkan untuk menggambarkan sosok didirinya dan hal itu menjadi catatan penting bagi Ia dalam menanamkan kebaikan khususnya di lingkup pegawai atau karyawan juga institusi manapun ketika dirinya memangku amanah.

dr. Wasisto mengaku banyak kenangan manis dan mengesankan ketika masih bertugas di salah satu Puskesmas. Saat itu menjelang sore hari, dirinya akan melakukan penyuluhan di satu kampung. Namun, belum juga sampai ke tempat yang dituju ayah dua orang anak ini jatuh ke sungai hingga basah kuyup saat melintasi jembatan (sasak) gantung karena sepeda motor yang ditumpanginya menyangkut di ujung jembatan.

“Waduh, itu betul-betul kenangan yang tak bisa dilupakan. Sampai-sampai Saya dibilang penyuluhan dengan sarung, karena waktu itu dipinjami sarung oleh warga disitu saking basah kuyup,” ceritanya sambil tertawa penuh canda. Wasisto bilang, selama penjalanan karirnya sudah banyak ditugaskan ke berbagai tempat mulai dari tingkat Puskesmas sampai rumah sakit dengan sejumlah jabatan yang didudukinya seperti Kepala Puskesmas, Kepala Seksi, Kepala Bidang Pelayanan, Wakil Direktur Umum hingga Direktur Utama Rumah Sakit.

Prinsip hidup yang dipegangnya sederhana, hanya ingin bermanfaat bagi orang lain dan juga selalu mengingat mati atau meninggal dunia sebagai dorongan berperilaku baik serta taat beribadah untuk bekal di akhirat kelak. “Intinya, kalau beribadah seolah-olah kita harus merasa akan mati besok, tapi kalau dalam berkerja harus merasa akan hidup seribu tahun,” pesannya.

Meski terlahir dari keluarga besar tenaga pendidik atau Guru, anak ke dua dari lima bersaudara ini menjadi satu-satunya yang menggeluti karir di bidang kesehatan. Karena itu juga yang selalu di cita-citakan dari masa kecil oleh kedua orang tuanya Bpk. Mujono dan Ny. Sukarsiah. “Saya selalu bilang ingin jadi dokter dan ternyata Alhamdulillah keinginan itu bisa tercapai. Begitu juga dengan kedua anak Saya sekarang sudah menjadi dokter di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Semoga dalam menjalani hidup ini, baik kami sekeluarga selalu berkah dan dirahmati oleh Allah SWT,” ucapnya.

dr. H. Wasisto Hidayat, M. Kes., lahir di Yogyakarta – Jawa Tengah Tanggal 11 November 1955. Di kampung kelahirannya itu, Ia menghabiskan masa pendidikan mulai masuk Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) Teladan di Tahun 1973. Lalu, setahun kemudian tepatnya 1974 dirinya melanjutkan kuliah ke Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dan mendapat gelar Sarjana 1 (S1) di tahun 1981.

Tak berselang lama, menginjak awal 1982 Wasisto diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Tasikmalaya-Jawa Barat dan mendapat tugas pertama menjadi Kepala Puskemas Leuwisari Kecamatan Tawang Banteng, Singaparna Kab. Tasikmalaya, dan tugasnya itu kurang lebih hanya 10 bulan. Di akhir tahun tersebut, Ia dipindahtugaskan untuk menjabat Kepala Puskesmas Pagerageung sampai Tahun 1986 dan kembali dimutasi menduduki jabatan Kepala Puskesmas Rajapolah hingga 1998.

Di tahun yang sama, dipercaya menjadi Kepala Seksi Penyuluhan Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya. Lalu, Ia melanjutkan studinya kembali ke UGM dengan mengambil jurusan yang berbeda yakni Manajemen Rumah Sakit dari Tahun 1997-1999 hingga menyandang gelar Sarjana 2 (S2). Semenjak itu, Wasisto langsung dipercaya memegang amanah di RSUD Tasikmalaya sebagai Kepala Bidang Pelayanan. Masih di tahun itu dan institusi yang sama, tiga bulan kemudian diangkat menjadi Wakil Direktur Keuangan sampai Tahun 2006.

Selanjutnya, diangkat sebagai Direktur RSUD Kota Tasikmalaya hingga memasuki masa pensiun di Tahun 2015. Setelah tiga bulan, dirinya mengikuti tes untuk kembali menduduki jabatan tersebut melalui lelang jabatan yang diselenggarakan oleh pihak Provinsi Jawa Barat di Jati Nangor, Bandung. Alhasil, dr. Wasisto kembali menjabat Direktur Utama RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya sampai sekarang setelah dinyatakan lulus kerena berhasil mendapat nilai paling tinggi diantara dua kandidat lainnya yang mengikuti tes tersebut.

dr. H. Wasisto Hidayat, M.Kes., mulai membina rumah tangga sejak Tahun 1982 dengan menikahi sang isteri Hj. Endang Lilik Mintarti dan sampai sekarang memiliki dua orang anak yakni anak pertama bernama dr. Metalia Puspitasari kelahiran Tasikmalaya 1983 (Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Dosen di UGM) dan anak kedua dr. Rangga Mudita kelahiran Tasikmalaya 1986 (Dokter Spesialis Kulit). Dari anaknya yang pertama, Ia mempunyai satu orang menantu bernama dr. Robi (Dokter Spesialis Mata) dan satu orang cucu bernama Velisia. Jerat86 01

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*